Jumat, 10 Februari 2012

“Apa yang Sa Liat dan Sa Tau itu Tra Sama deng Apa yang Ko Liat dan Ko Tau” (Sebuah Perspektif Anthropological Linguistics)


Bila menelusuri kembali jejak perkembangan ilmu Bahasa (Linguistic) akan ditemukan seorang tokoh besar yang sangat mempengaruhi disiplin ilmu ini dengan pandangannya. Terlahir pada tanggal 26 Januari 1884, Edward Sapir kemudian bertumbuh dewasa dan menjadi seorang linguist dan anthropologist Amerika yang besar di bawah pengaruh didikan pembimbing doktoralnya yang juga merupakan seorang anthropologist ternama Amerika, Franz Boas. Ajaran – ajaran dan ide – ide Sapir kemudian dikembangkan oleh seorang muridnyaBenjamin Lee Whorf dan akhirnya melahirkan sebuah prinsip yang terkenal dengan nama the Sapir- Whorf Hypothesis dan yang juga dikenal dengan nama Prinsip (Teori) Relativitas Bahasa (the Principle of Linguistic Relativity). Secara singkat, teori ini, mengemukakan bahwa bahasa yang berbeda menghasilkan pola pikir yang berbeda pula.

Lebih mendalam, pandangan Sapir – Whorf mengindikasikan bahwa setiap masyarakat yang memiliki bahasa tertentu selalu memiliki formasi pikiran pada tingkat mental sendiri yang tentunya berbeda dari komunitas yang lain dan faktor utama penyebab hal ini adalah perbedaan budaya. Budaya sendiri terdiri dari dua struktur dasar: konsep dan tindakan; Apa yang dikonsepkan selalu diwujudkan dalam tindakan. Proses pengonsepan dan perealisasian konsep dalam bentuk tindakan, selalu didasari oleh pengetahuan akan hal yang baik dan yang tidak. Perbedaan pemahaman terhadap apa yang baik dan tidak dari konsep dan tindakan ini yang selalu membedakan komunitas masyarakat yang satu dan lainnya. Demikianlah, mengapa terdapat begitu banyak budaya di bumi ini. Perbedaan – perbedaan di atas menuntun setiap kelompok masyarakat untuk mengartikan dan mengekspresikan apa yang dilihatnya berbeda – beda dengan apa yang dilihat oleh orang lain. Sebagai contoh, kata atau tanda “menggelengkan kepala” akan diartikan berbeda antara orang Sri Lanka dan orang Indonesia. Bagi komunitas masyarakat Sri Lanka “menggelengkan kepala” berarti memberikan tanda atau berarti persetujuan. Bertolak belakang dengan konsep pemahaman orang Sri Lanka, kata atau tanda “menggelengkan kepala” selalu memberi isyarat negatif, misalnya penolakan akan sebuah aksi, bagi masyarakat Indonesia. Contoh lain, “menaikkan ibu jari” secara universal merujuk pada pemberian penilaian baik, tetapi tidak sama halnya dengan “menaikkan ibu jari” pada masyarakat Iran yang memiliki arti sebaliknya.


Perbedaan budaya, bahasa, pengetahuan dan pikiran ini telah mengelompokkan masyarakat ke dalam kelompok – kelompok tertentu yang tidak bisa disamakan antara yang satu dan lainnya. Dan tentunya, sistem dalam sebuah masyarakat tidak dapat diterapkan atau pun ‘dipasangkan’ ke dalam kehidupan masyarakat lain. Memahami konsep kelompok lain dan bertindak sesuai dengan konsep itu merupakan kunci menyatukan perbedaan atau sebaliknya mengabaikannya merupakan kunci membedakan persatuan.

Dilema Bahasa: Antara Pemertahanan dan Penyesuaian

Perkembangan pengetahuan dan teknologi ikut mendorong perkembangan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Tidak dapat disangkal bahwa dalam memainkan perannya sebagai alat komunikasi satu bahasa dapat menggeserkan peran bahasa – bahasa lain. Hal ini tampak jelas dalam kehidupan manusia dimana komunitas dengan kehidupan sosial yang dominan selalu menempatkan bahasa mereka pada tingkatan tertinggi dan komunitas dengan peran sosial resesif selalu mengikuti gaya bahasa dari komunitas kelas atas. Bahasa Inggris sebagai contoh nyata telah merambat ke seluruh penjuru dunia dan mengambil bagian sebagai alat komunikasi antar berbagai kebudayaan. Dunia terasa begitu sempit ketika kita bisa berbahasa Inggris. Banyak informasi tentang pendidikan, bisnis, agama, politik, ekonomi, dll. dapat diperoleh dengan cepat, terlebih lagi dengan adanya perkembangan jaringan internet. Namun di sisi lain, penggunaan bahasa Inggris memberikan dampak negative bagi bahasa – bahasa lokal di berbagai belahan bumi. Seperti memakan buah simalakama, kerumitan bahasa memaksa setiap kita terlebih lagi komunitas kelas bawah untuk menyesuaikan dengan perkembangan, tetapi di sisi lain kita kehilangan bahasa lokal yang kita miliki sebagai identitas diri kita. Hal ini menjadi dilema bahasa bagi para pencinta bahasa dan komunitas pengguna bahasa.

Saya merenung dan berpikir, betapa beruntungnya orang – orang yang memiliki bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka karena sebagaimana kita tahu bersama bahwa bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu dunia. Mereka adalah komunitas, menurut saya, kelas 1 karena mereka tentunya tidak memikirkan bagaimana dapat mempelajari dan menggunakan bahasa Inggris . Seperti kelakar yang diceritakan seorang awam yang pulang berlibuaran di Inggris; di Inggris jalan rayanya sangat bagus, gedung – gedungnya pun penuh sentuhan artistic, Bandar udaranya sangat megah, fasilitas – fasilitas umum sangat luar biasa, tetapi ada satu hal yang paling luar biasa dan sangat mengherankan. Meskipun masih kecil – kecil anak – anak di Inggris sudah bisa berbicara bahasa Inggris (hehehehe). Tetapi, bagi kita komunitas bahasa kelas menengah dan bawah harus dengan jerih payah mempelajari bahasa asing untuk terlepas dari apa yang disebut dunia pengetahuan “ketertinggalan”.

Kasus yang sama terjadi di Papua yang memiliki lebih dari 200an bahasa daerah. Banyak anak – anak generasi muda tidak lagi dapat berbicara bahasa daerah terlebih lagi yang telah bermukim di kota karena harus berpapasan dengan dunia yang baru dan perkembangan yang pesat. Bahasa daerah menjadi pilihan alat komunikasi ketiga (atau tidak sama sekali) setelah Melayu Papua dan bahasa baku Indonesia. Di satu sisi sangat disayangkan karena hilang bahasa daerah berarti hilang identitas diri, tetapi di sisi lain tidak cakap dalam berbahasa Indonesia dan Melayu Papua dapat menggeserkan kehidupan anak – anak terlebih khusus dalam dunia pendidikan. Ironisnya, bahasa asing (red. Bahasa Inggris) pun telah merambah ke dalam kurikulum pendidikan dan bersama bahasa Indonesia dan melayu Papua menggeser keberadaan bahasa – bahasa daerah. Sulit untuk dipilih antara mempertahankan bahasa daerah atau menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan zaman ini dengan bahasa digunakan.

Bahasa Tak Pernah Punah; Penutur dan Objek Bahasa yang Menyusut dan Menghilang


Apakah sebuah bahasa dapat menyusut dan punah?
Bahasa merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang berfungsi sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk hidup yang lain. Bahasa memiliki aturan yang mengikat penuturnya terhadap penggunaan dari bahasa itu sendiri. Setiap bunyi bahasa memiliki makna yang dapat dipahami oleh penuturnya. Timbul pertanyaan apakah mungkin makhluk hidup lainnya memiliki bahasa seperti manusia? Misalnya bahasa semut, bahasa kucing, bahasa anjing dst. Secara linguistik, hal ini dapat dijawab dengan melihat aspek – aspek dari bahasa (fonetik, fonologi, morpologi, sintaks, semantik dan pragmatik) itu sendiri. Aspek – aspek bahasa memiliki tiga unsur yang harus terpenuhi secara bersamaan untuk menghasilkan aturan bahasa yang baik. Setiap aspek bahasa harus memiliki bentuk, fungsi dan makna. Jadi, jika kita kembali ke pertanyaan apakah mungkin makhluk lain memiliki bahasa, tentu jawabnya adalah tidak.
Gonggongan seekor anjing tidak memiliki aturan panjang atau pendek, atau tekanan ‘stress’ pada bagian tertentu. Dengan gonggongan yang sama misalnya anjing dapat memberitahukan tentang adanya orang asing, anjing lain, atau makhluk lain dalam kawasannya atau bahkan gonggongan tersebut bisa dilakukan anjing karena kegirangan menyambut tuannya yang pulang ke rumah. Coba kita bayangkan jika dengan kalimat yang sama manusia memberitahu tentang hal – hal yang berbeda. Singkatnya, manusialah yang berbahasa bukan makhluk lainnya.
Bila manusia berbahasa, tentunya manusia memerlukan sesuatu untuk dibahasakan. “Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya;’’ Sepenggal nats Kitab Suci di atas menggambarkan bahwa proses berbahasa manusia terjadi karena ada objek yang bisa dibahasakan (disimbolkan). Objek bahasa mengacu kepada segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan manusia. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan hubungan manusia dengan alam menghasilkan objek bahasa. Manusia mengenal alam sehingga membahasakan pepohonan, benda – benda langit, hewan – hewan, gunung, lembah dan semua yang ada di alam. Hal serupa juga terjadi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Jika benda – benda alam hilang dan punah maka manusia tidak dapat lagi bertutur tentang benda – benda tersebut sama halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Bayangkanlah bila suatu hari manusia tidak lagi percaya kepada Tuhan atau tidak lagi membangun hubungan dengan sesama manusia berapa banyak kosa kata yang akan susut dan menghilang.
Kesimpulannya, penutur bahasa dan objek bahasa memainkan peran saling ketergantungan (simbiosis mutualisme). Penutur bahasa tidak dapat dipisahkan dari objek bahasa demikian juga sebaliknya. Hilangnya salah satu pihak menyebabkan hilang rantai pengikat bahasa. Bila kita kembali ke pertanyaan awal apakah sebuah bahasa dapat menyusut dan punah? Saya berpendapat bahwa bahasa tidak dapat menyusut dan punah, tetapi penyusutan dan kepunahan terjadi di pihak penutur yang cakap berbahasa dan objek yang akan dibahasakan.