Jumat, 10 Februari 2012

Dilema Bahasa: Antara Pemertahanan dan Penyesuaian

Perkembangan pengetahuan dan teknologi ikut mendorong perkembangan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Tidak dapat disangkal bahwa dalam memainkan perannya sebagai alat komunikasi satu bahasa dapat menggeserkan peran bahasa – bahasa lain. Hal ini tampak jelas dalam kehidupan manusia dimana komunitas dengan kehidupan sosial yang dominan selalu menempatkan bahasa mereka pada tingkatan tertinggi dan komunitas dengan peran sosial resesif selalu mengikuti gaya bahasa dari komunitas kelas atas. Bahasa Inggris sebagai contoh nyata telah merambat ke seluruh penjuru dunia dan mengambil bagian sebagai alat komunikasi antar berbagai kebudayaan. Dunia terasa begitu sempit ketika kita bisa berbahasa Inggris. Banyak informasi tentang pendidikan, bisnis, agama, politik, ekonomi, dll. dapat diperoleh dengan cepat, terlebih lagi dengan adanya perkembangan jaringan internet. Namun di sisi lain, penggunaan bahasa Inggris memberikan dampak negative bagi bahasa – bahasa lokal di berbagai belahan bumi. Seperti memakan buah simalakama, kerumitan bahasa memaksa setiap kita terlebih lagi komunitas kelas bawah untuk menyesuaikan dengan perkembangan, tetapi di sisi lain kita kehilangan bahasa lokal yang kita miliki sebagai identitas diri kita. Hal ini menjadi dilema bahasa bagi para pencinta bahasa dan komunitas pengguna bahasa.

Saya merenung dan berpikir, betapa beruntungnya orang – orang yang memiliki bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka karena sebagaimana kita tahu bersama bahwa bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu dunia. Mereka adalah komunitas, menurut saya, kelas 1 karena mereka tentunya tidak memikirkan bagaimana dapat mempelajari dan menggunakan bahasa Inggris . Seperti kelakar yang diceritakan seorang awam yang pulang berlibuaran di Inggris; di Inggris jalan rayanya sangat bagus, gedung – gedungnya pun penuh sentuhan artistic, Bandar udaranya sangat megah, fasilitas – fasilitas umum sangat luar biasa, tetapi ada satu hal yang paling luar biasa dan sangat mengherankan. Meskipun masih kecil – kecil anak – anak di Inggris sudah bisa berbicara bahasa Inggris (hehehehe). Tetapi, bagi kita komunitas bahasa kelas menengah dan bawah harus dengan jerih payah mempelajari bahasa asing untuk terlepas dari apa yang disebut dunia pengetahuan “ketertinggalan”.

Kasus yang sama terjadi di Papua yang memiliki lebih dari 200an bahasa daerah. Banyak anak – anak generasi muda tidak lagi dapat berbicara bahasa daerah terlebih lagi yang telah bermukim di kota karena harus berpapasan dengan dunia yang baru dan perkembangan yang pesat. Bahasa daerah menjadi pilihan alat komunikasi ketiga (atau tidak sama sekali) setelah Melayu Papua dan bahasa baku Indonesia. Di satu sisi sangat disayangkan karena hilang bahasa daerah berarti hilang identitas diri, tetapi di sisi lain tidak cakap dalam berbahasa Indonesia dan Melayu Papua dapat menggeserkan kehidupan anak – anak terlebih khusus dalam dunia pendidikan. Ironisnya, bahasa asing (red. Bahasa Inggris) pun telah merambah ke dalam kurikulum pendidikan dan bersama bahasa Indonesia dan melayu Papua menggeser keberadaan bahasa – bahasa daerah. Sulit untuk dipilih antara mempertahankan bahasa daerah atau menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan zaman ini dengan bahasa digunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar