Saya merenung dan berpikir, betapa beruntungnya orang – orang yang memiliki bahasa Inggris sebagai bahasa ibu mereka karena sebagaimana kita tahu bersama bahwa bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu dunia. Mereka adalah komunitas, menurut saya, kelas 1 karena mereka tentunya tidak memikirkan bagaimana dapat mempelajari dan menggunakan bahasa Inggris . Seperti kelakar yang diceritakan seorang awam yang pulang berlibuaran di Inggris; di Inggris jalan rayanya sangat bagus, gedung – gedungnya pun penuh sentuhan artistic, Bandar udaranya sangat megah, fasilitas – fasilitas umum sangat luar biasa, tetapi ada satu hal yang paling luar biasa dan sangat mengherankan. Meskipun masih kecil – kecil anak – anak di Inggris sudah bisa berbicara bahasa Inggris (hehehehe). Tetapi, bagi kita komunitas bahasa kelas menengah dan bawah harus dengan jerih payah mempelajari bahasa asing untuk terlepas dari apa yang disebut dunia pengetahuan “ketertinggalan”.
Kasus yang sama terjadi di Papua yang memiliki lebih dari 200an bahasa daerah. Banyak anak – anak generasi muda tidak lagi dapat berbicara bahasa daerah terlebih lagi yang telah bermukim di kota karena harus berpapasan dengan dunia yang baru dan perkembangan yang pesat. Bahasa daerah menjadi pilihan alat komunikasi ketiga (atau tidak sama sekali) setelah Melayu Papua dan bahasa baku Indonesia. Di satu sisi sangat disayangkan karena hilang bahasa daerah berarti hilang identitas diri, tetapi di sisi lain tidak cakap dalam berbahasa Indonesia dan Melayu Papua dapat menggeserkan kehidupan anak – anak terlebih khusus dalam dunia pendidikan. Ironisnya, bahasa asing (red. Bahasa Inggris) pun telah merambah ke dalam kurikulum pendidikan dan bersama bahasa Indonesia dan melayu Papua menggeser keberadaan bahasa – bahasa daerah. Sulit untuk dipilih antara mempertahankan bahasa daerah atau menyesuaikan dengan perkembangan kehidupan zaman ini dengan bahasa digunakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar