Apakah sebuah bahasa dapat menyusut dan punah?
Bahasa merupakan salah satu unsur dalam kehidupan manusia yang berfungsi sebagai pembeda antara manusia dengan makhluk hidup yang lain. Bahasa memiliki aturan yang mengikat penuturnya terhadap penggunaan dari bahasa itu sendiri. Setiap bunyi bahasa memiliki makna yang dapat dipahami oleh penuturnya. Timbul pertanyaan apakah mungkin makhluk hidup lainnya memiliki bahasa seperti manusia? Misalnya bahasa semut, bahasa kucing, bahasa anjing dst. Secara linguistik, hal ini dapat dijawab dengan melihat aspek – aspek dari bahasa (fonetik, fonologi, morpologi, sintaks, semantik dan pragmatik) itu sendiri. Aspek – aspek bahasa memiliki tiga unsur yang harus terpenuhi secara bersamaan untuk menghasilkan aturan bahasa yang baik. Setiap aspek bahasa harus memiliki bentuk, fungsi dan makna. Jadi, jika kita kembali ke pertanyaan apakah mungkin makhluk lain memiliki bahasa, tentu jawabnya adalah tidak.
Gonggongan seekor anjing tidak memiliki aturan panjang atau pendek, atau tekanan ‘stress’ pada bagian tertentu. Dengan gonggongan yang sama misalnya anjing dapat memberitahukan tentang adanya orang asing, anjing lain, atau makhluk lain dalam kawasannya atau bahkan gonggongan tersebut bisa dilakukan anjing karena kegirangan menyambut tuannya yang pulang ke rumah. Coba kita bayangkan jika dengan kalimat yang sama manusia memberitahu tentang hal – hal yang berbeda. Singkatnya, manusialah yang berbahasa bukan makhluk lainnya.
Bila manusia berbahasa, tentunya manusia memerlukan sesuatu untuk dibahasakan. “Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya;’’ Sepenggal nats Kitab Suci di atas menggambarkan bahwa proses berbahasa manusia terjadi karena ada objek yang bisa dibahasakan (disimbolkan). Objek bahasa mengacu kepada segala sesuatu yang ada di dalam kehidupan manusia. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan hubungan manusia dengan alam menghasilkan objek bahasa. Manusia mengenal alam sehingga membahasakan pepohonan, benda – benda langit, hewan – hewan, gunung, lembah dan semua yang ada di alam. Hal serupa juga terjadi pada hubungan manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Jika benda – benda alam hilang dan punah maka manusia tidak dapat lagi bertutur tentang benda – benda tersebut sama halnya dengan hubungan antara manusia dengan Tuhan dan sesamanya. Bayangkanlah bila suatu hari manusia tidak lagi percaya kepada Tuhan atau tidak lagi membangun hubungan dengan sesama manusia berapa banyak kosa kata yang akan susut dan menghilang.
Kesimpulannya, penutur bahasa dan objek bahasa memainkan peran saling ketergantungan (simbiosis mutualisme). Penutur bahasa tidak dapat dipisahkan dari objek bahasa demikian juga sebaliknya. Hilangnya salah satu pihak menyebabkan hilang rantai pengikat bahasa. Bila kita kembali ke pertanyaan awal apakah sebuah bahasa dapat menyusut dan punah? Saya berpendapat bahwa bahasa tidak dapat menyusut dan punah, tetapi penyusutan dan “kepunahan” terjadi di pihak penutur yang cakap berbahasa dan objek yang akan dibahasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar